Sunday, September 15, 2013
0 komentar

Ragam Cabe dan beragam harganya.

4:23 PM
Rabu, 04 September 2013
“Berita panas, berita panas – harga cabe Rp 120.000,-/kg. Ayo beli Pak, ….” Itu suara pengecer koran distasiun Tugu Jogja beberapa waktu lalu.Awal bulan Ramadhan lalu masyarakat dibuat terkaget-kaget dengan berita di TV atau di Koran yang memberitakan harga Cabe Rawit mencapai Rp80.000,-/kg. 

Bahkan di Purwokerto – Jateng, si Rawit merah itu mencapai harga Rp120.000,-/kg. Berita yang tersiar hingga dirumah-rumah petani diseluruh Indonesia itu juga membuat geram petani. Masalahnya, hasil panen Cabe Rawit miliknya hanya dibeli pedagang setempat dengan harga sekitar Rp18.000,- saja per kilogramnya.Para pejabat yang mengurus masalah ekonomi dan perdagangan pangan sempat juga kaget. Hingga muncul perkiraan adanya spekulan atau pedagang nakal yang memainkan harga di pasar, mengambil laba terlalu besar, hingga menyusahkan petani dan konsumen.

Apa berita TV dan Koran tersebut salah ? Tidak salah, hanya kurang lengkap saja. Kalau pihak TV dan Koran sekarang ini selalu memilih berita yang “menarik”, misalnya Cabe Rawit yang mencapai harga Rp80.000,- hingga Rp120.000,-/kg, itu wajar, sebab kalau Koran atau TV sekarang memberitakan yang “biasa”, yang menenangkan masyarakat, mungkin TV-nya tidak ada yang nonton, atau korannya tidak ada yang membeli. Mudah-mudahan tidak ada “target” untuk menyusahkan atau membingungkan masyarakat atau untuk menimbulkan kesan adanya kegagalan pembangunan dibidang pangan.Tentang Cabe Rawit, yang saat ini diramaikan adalah jenis Cabe Rawit “setan”, jenisnya cukup banyak. Di pasar Induk Tanah Tinggi – Tangerang, di Pasar Induk Osowilangun Surabaya dan di Pasar Induk Jakabaring – Palembang, paling tidak ada 5 (lima) jenis Cabe Rawit yang biasa dipasarkan dan disukai masyarakat.Pertama, adalah Cabe Rawit Merah “besar”. Cabe ini fisiknya besar, warnanya kalau masih muda putih – setelah tua menjadi merah. Di Temanggung, Cabe Rawit jenis ini disebut Cabe Rawit Gajah. 

Di Kediri, Blitar, dan Banyuwangi banyak juga ditanam petani, tetapi spesiesnya agak beda. Rasa pedasnya sedang, baunya segar khas rawit, sehingga banyak disukai oleh penjual “Bakso Uleg Temanggungan”, “Kupat Tahu – Magelangan”, “Bakmi – Magelangan”, dan campuran “Gudeg Jogja”. Ibu-ibu rumah tangga mengatakan, Cabe ini biasanya dipakai untuk campuran masak saja agar masakan pedasnya nyata, sebab kalau hanya menggunakan Cabe Merah Kriting rasanya kurang pedas. Cabe Rawit jenis ini umumnya ditanam di tanah tegalan diawal musim penghujan, kalau tidak diserang penyakit berat umurnya dapat lebih dari setahun. Pada bulan Maret (mongso Mareng/awal kemarau) hingga Juni, biasanya produksinya pas bagus. Namun karena tahun ini hingga Juni curah hujan masih tinggi, banyak tanaman yang terkena serangan jamur Phitophthora sp dan Colletroticum sp sehingga tanaman banyak yang rusak dan buahnya busuk. Akibatnya, pasokan ke pasar turun drastis. Biasanya pasokan setiap hari di Pasar Induk Tanah tinggi – Tangerang untuk Cabe Rawit Merah ini sekitar 15 ton, sehingga harga dipasar sekitar Rp11.000,- s.d. 15.000,-/kg. Tetapi karena pasokan diakhir Juli hingga Agustus ini hanya sekitar 3 ton/hari, harga melambung tinggi di atas Rp35.000,-/kg. Bahkan untuk harga ecerannya bisa mencapai Rp 50.000,-/kg. Kalau konsumen membeli hanya 0,5 ons, penjual memberi harga Rp 6.000,-/kg, sehingga kalau diperhitungkan per kilogramnya, harga bisa menjadi Rp 120.000,-/kg !!!. Nah, ini memang tidak wajar, tetapi inilah yang “layak” menjadi berita yang menarik bagi Media.Tetapi sekarang kondisi sudah mendekati normal. Harga Cabe Rawit Merah besar ini sekarang sudah sekitar Rp25.000,-/kg di Jakarta, dan diprediksi akan terus menurun saat pasokan mulai meningkat pada akhir Agustus nanti. Kedua, Cabe Rawit Merah “kecil”. Fisik cabe rawit yang warna merahnya lebih tua ini berbentuk ramping dan memanjang. Rasa pedasnya luar biasa, sehingga banyak yang memberinama “Rawit Setan”. Nama yang kurang bagus tetapi terlanjur popular. Cabe ini banyak ditanam petani di daerah Madura dan NTB, walau di daerah lain juga ada tetapi sedikit. Ketahanannya terhadap serangan penyakit lebih baik dibanding Cabe Rawit jenis pertama. Konsumennya beragam untuk berbagai resep masakan dan sambal. Di Jogja ada “Tongseng Mercon”, di Magelang ada “Bakso Setan”, di Jawa Timur ada “Rawon Setan”, “Oseng-oseng Mercon”, kebanyakan menggunakan cabe rawit jenis ini. Diwaktu normal, pasokan ke pasar Induk (Tanah Tinggi) rata-rata sekitar 25 ton/hari sehingga harganya sekitar Rp 8.000,-/kg. Tetapi sekarang pasokan yang masuk sekitar 10 ton/hari sehingga harganya menjadi sekitar Rp14.000,-/kg. Ini harga yang wajar.Ketiga, adalah Cabe Rawit Muda. Ada tiga macam spesies Cabe Rawit hijau yang disukai konsumen. Ada yang warnanya putih ramping, ada yang hijau gendut, dan ada yang hijau ramping. 

Semua dikonsumsi masyarakat untuk sambel, untuk lalap atau masakan mangut, dicampur dengan pepes ikan dan sebagainya. Tanaman ini dapat dibudidayakan dimana-mana, mulai dari dataran rendah tepi pantai sampai dataran tinggi 2.000 m dpl. Dapat ditanam di lahan sawah, tegalan, pekarangan, baik secara tunggal (monoculture) maupun tumpangsari. Hasil panennya kebanyakan dipetik hijau, walau ada yang dipelihara sampai merah. Dalam situasi normal, pasokan ke pasar Induk Tanah Tinggi untuk ketiga jenis cabe muda tersebut sekitar 30 ton/hari sehingga harga yang terbentuk sekitar Rp9.000,-/kg. Sekarang (Agustus) ini pasokan menurun menjadi sekitar 20 ton/hari sehingga harga untuk Rawit muda putih Rp 17.000,-/kg dan Rawit muda hijau Rp 15.000,-/kg. Kondisi ini wajar, walau sekitar bulan Ramadhan.Sementara itu untuk Cabe jenis lain, Cabe Merah Keriting pasokan mulai baik. Biasanya pasokan sekitar 120 ton/hari – harga yang terbentuk sekitar Rp9.000,- s.d. Rp 14.000,-/kg. 

Saat ini pasokan sudah sekitar 100 ton/hari sehingga harga saat ini Rp10.000,-/kg. Untuk Cabe Merah Besar (TW) pasokan biasanya sekitar 20 ton/hari – harga yang terbentuk sekitar Rp 8.000,-/kg. Sekarang pasokan sekitar 20 ton/hari sehingga harga naik menjadi Rp 10.000,-/kg. Untuk harga Cabe hijau besar saat ini berada pada posisi Rp9.000,-/kg. Biasanya harga Cabe hijau sekitar Rp7.000,-/kg.Dengan tetap lancarnya pasokan cabe untuk industri yang telah melakukan kontrak dengan petani di sentra produksi, adanya kenaikan harga tersebut, semuanya sangat wajar. Artinya, kenaikan harga beberapa jenis Cabe tersebut semata-semata karena pasokan yang berkurang dan permintaan yang sedikit naik di setiap daerah. Prediksi.Saat ini jumlah tanaman Cabe muda di beberapa sentra Cabe di Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan NTB cukup banyak. Curah hujan sudah sangat jarang pada Agustus ini, dan cuaca bagus untuk perkembangan Cabe di lapangan sehingga gangguan penyakit yang disebabkan oleh lembabnya udara akan berkurang. Untuk beberapa jenis Cabe tersebut diperkirakan akan mulai panen pada akhir Agustus. Dengan begitu harga diperkirakan akan normal kembali pada minggu-minggu akhir Agustus.Namun demikian, dengan semakin banyaknya pertanaman Cabe dan selalu ada sepanjang tahun di suatu wilayah, akan memicu meningkatnya serangan penyakit virus kuning yang biasanya akan meningkat di musim kemarau. Untuk itu perlu kewaspadaan tersendiri agar produksi Cabe tetap baik. 

2. Bawang merah.Saat ini harga bawang merah lokal (Brebes, Probolinggo) memang masih sekitar Rp35.000,-/kg di Pasar Induk Tanah Tinggi - Tangerang. Ini masih wajar karena pasokan masih sekitar 40 ton/hari, (biasanya sekitar 100 ton/hari). Namun dari sentra Bawang Merah di Brebes, Nganjuk dan Probolinggo diperoleh kabar bahwa, banyak tanaman yang berumur sekitar 35 hari dan akan panen sekitar sebulan lagi. Kemudian mulai hari-hari ini, saat cuaca sudah baik di awal Agustus ini, setiap hari di Brebes, Nganjuk & Probolinggo mulai banyak petani menanam Bawang Merah baru. Panen yang diperoleh pada Mei-Juni lalu sebagian sudah menjadi bibit yang siap tanam pada Agustus – September ini.Prediksi, mulai pertengahan September, produksi diprediksi sudah mencapai sekitar 30 % dari biasanya sehingga harga bawang merah sudah mulai normal, sekitar Rp15.000,-/kg. Bahkan diprediksi untuk 2 – 3 bulan mendatang panen besar Bawang merah akan terjadi, walau hanya sekitar 70% dari produksi biasanya (sekitar 1,1 juta ton/tahun). Penanaman Bawang Merah tahun ini tidak optimal karena mahalnya harga bibit. Semoga harga tidak jatuh dibawah Rp5.000,-/kg, yang akan sangat merugikan petani. Karena saat menanam sekarang harga bibit sangat mahal, diatas Rp40.000,-/kg.

Soekam Parwadi Ketua Paguyuban petani wilayah Kedu dan Banyumas Jawa Tengah , dan juga selaku supervisor distribusi pada Pasar Induk Tanah Tinggi Tanggerang, Pasar Induk Osowilangun Surabaya dan Pasar Induk Jakabaring Palembang.
 
Toggle Footer
Top